 |
| Makam Gantung Eyang Djojodigdo © itoday.co.id |
Pasti hal pertama yang ada dibenak kita adalah makam gantung, seperti apa itu? sebenarnya makam ini layaknya makam-makam biasanya, tetapi ada yang beda dalam proses pemakaman pada makam yang sering dijuluki oleh masyarakat blitar dengan makam gantung ini. Konon ditempat inilah Eyang Djojodigdo (baca: Eyang Joyodigdo) dimakamkan.
Lalu siapakah Eyang Joyodigdo ini?
Eyang Joyodigdo ini konon adalah orang dekat Pangeran Diponegoro yang memiliki ajian pancasona. Ajian yang membuat orang tidak bisa mati kalau tubuhnya bersentuhan dengan tanah. Karena itulah, agar orang yang memiliki ajian pancasona tidak hidup kembali, waktu meninggal jasadnya jangan sampai menyentuh tanah, karena itu dimakam ini disebut makam gantung.
Lantas bagaimana Eyang Joyodigdo ini bisa memiliki ajian pancasona?
Menurut Biran juru kunci dimakam gantung, semasa hidupnya, Eyang Joyodigdo ini sering melakukan tirakat dan berguru kebangsa lelembut dan manusia. Berbagai macam ilmu telah dikuasi termasuk ilmu ajian pancasona yang konon didapat dari berguru kepada sosok gaib yang memiliki ajian pancasona. Kalau dalam kisah wayang, sosok yang memiliki ajian pancasona adalah Subali keturunan bangsa kera.
Eyang Joyodigdo ini adalah keturunan darah biru mataram. Bersama dengan Pangeran Diponegoro, melakukan perlawanan terhadap Belanda. Pada tahun 1825, timbul perselisihan antara Belanda dengan Pangeran Diponegoro.
Penyebabnya adalah pihak keraton yang terlalu merendahkan martabat Diponegoro. Keraton Yogyakarta, seakan-akan berdiri hanya karena
kemurahan hati Belanda.
Selain itu, yang membuat geram Diponegoro adalah kekuasaan raja-raja ditanah Jawa terus dipersempit, kekuasaan
raja yang disamakan dengan kedudukan pengawai tinggi pemerintahan Kolonial.
Bahkan, pemerintah kolonial terlalu jauh mencampuri urusan keraton
dengan cara ikut campur dalam hal pergantian raja.
Lebih menyakitkan lagi bagi Diponegoro, pihak Belanda memungut pajak
jalan, ternak, rumah serta hasil bumi kepada rakyat jelata. Karena itu,
ketika kompeni membuat tanda tapal batas untuk jalan yang melewati tanah
leluhurnya, tanda tapal batas itu langsung dicabut.
Dengan begitu, api peperangan telah tersulut.
Selama dalam masa
peperangan yang berlangsung lima tahun (1825-1830), salah satu pengikut
pangeran Diponegoro yang setia melakukan perlawanan kepada Belanda yakni, Joyodigdo. Tak hanya sekali, tokoh sakti ini tertangkap dan dieksekusi mati oleh
Belanda. Namun, karena mempunyai Aji Pancasona, begitu jasadnya dibuang
oleh Belanda, Joyodigdo hidup lagi tanpa sepengetahuan kompeni.
Hingga pada akhirnya, di tahun 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap
karena siasat licik pihak kompeni. Meskipun Pangeran Diponegoro telah
diasingkan ke Makasar setelah tertangkap, bukan berarti darah pejuang
Joyodigdo padam.
Walau saat pecah perang Pangeran Diponegoro, usianya masih menginjak
sekitar 30-an. Ia terus melakukan perang gerilya bersama pengikut
Pangeran Diponegoro yang lain.
Saat itu wilayah Yogyakarta
terlalu banyak penjagaan oleh kompeni, Joyodigdo memilih perang gerilya
menuju arah timur. Selama perjalanan kearah timur, setiap pos Belanda yang lengah, pasti diserang hingga sampailah di wilayah Blitar. Di kota ini, tanpa sepengetahuan pihak penguasa Blitar
saat itu, Joyodigdo terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Merasa wilayahnya aman dari pemerasan kompeni, kemudian Adipati Blitar
saat itu, mengirim pasukan telik sandi (intel) untuk mencari tahu siapa
sebenarnya yang telah membuat takut kompeni di wilayah Blitar.
Hingga pada akhirnya, telik sandi yang dikirim oleh sang Adipati,
menemukan Joyodigdo di sebuah hutan yang masuk Blitar Selatan. Atas
perintah Adipati Blitar, telik sandi mengundang Joyodigdo untuk datang ke
pendopo.
Namun permintaan utusan Adipati Blitar ini ditolak halus dengan alasan masih sibuk melatih laskar untuk mengusir
kompeni.
Karena tolakan halus dari Joyodigdo ini, kemudian telik sandi langsung
pulang dan melapor kepada Adipati.
Dua tahun kemudian, Adipati Blitar
kembali mengirim utusan. Saat itu, patih di kadipaten Blitar mangkat dan
harus segera dicarikan pengganti.
Maksud Adipati mengirim utusan yang kedua, agar Joyodigdo bersedia
menjadi pati di kadipaten Blitar. Dan karena banyak pihak kompeni yang
meninggalkan Blitar lantaran serangan gerilya pasukan Joyodigdo, tokoh ini
bersedia menerima tawaran Adipati Blitar.
Sebagai seorang keturunan darah biru dan pernah tinggal di keraton,
ketika diangkat menjadi patih di kadipaten Blitar, Joyodigdo sudah tak
asing lagi dengan pemerintahan. Patih Joyodigdo mampu mengambil kebijakan
yang sangat cakap.
Hal inilah yang membuat salut sang Adipati Blitar. Karena kecakapan ini,
kemudian sang Adipati memberinya tanah perdikan yang sekarang berada di
Jalan Melati kota Blitar.
Di tanah perdikan ini, Joyodigdo kemudian
membangun sebuah rumah besar untuk keluarganya dan diberinya nama,
Pesanggerahan Joyodigdo.
Hingga saat ini, rumah yang didirikan oleh Joyodigdo masih berdiri kokoh.
Sebagai manusia biasa, walau mempunyai Aji Pancasona, Joyodigdo akhirnya
wafat pada tahun 1905 diusia seratus tahun lebih.
Karena khawatir akan hidup lagi begitu menyentuh bumi, kemudian oleh
para kerabat, makamnya diusahakan agar tidak menyentuh tanah. Jasad
Joyodigdo dimasukkan kedalam peti besi, dan peti itu kemudian disangga
dengan empat tiang yang juga terbuat dari besi.
Referensi:
http://www.itoday.co.id/metafisika/ini-dia-misteri-makam-gantung-di-blitar
http://kusumakomp.wordpress.com/2012/03/22/kisah-misteri-pemilik-ajian-pancasona-makamnya-digantung/
http://www.youtube.com/watch?v=Q7j1RHQSU3IDescription:
Makam Gantung Blitar Kota (Eyang Djojodigdo)
Rating:
4.5
Reviewer:
Ade Tiawan -
ItemReviewed:
Makam Gantung Blitar Kota (Eyang Djojodigdo)